Jumat, 14 Desember 2007
mencari belahan jiwa
Apa elo soulmate Gue ? merupakan novel yang menceritakan perjalanan seorang gadis dalam menemukan belahan jiwanya. setiap kali dia dekat dengan seseorang dia selalu berfikir dialah soulmatenya ? berliku jalan kehidupan di laluinya, berkali-kali hatinya singgah pada beberapa pria namun apa yang dicarinya tak ada pada pria tersebut, sampai akhirnya dia menyerah tak mencari lagi soulmatenya. Darei situlah keajabaiban datang. Baca cerita selanjutnya di novel Apa Elo soulmate gue ?
mengugah hati kita
Potret Sosial
Kehidupan di stasiun Kereta
Kereta jabotabek melaju dengan kencang melewati stasiun Bogor hingga stasiun kota.Disitulah kami mengais rezeki dari memulung gelas dan botol air mineral sisa penumpang. Entah sampai kapan kami begini, kami ingin hidup dengan layak.
Suasana kereta jabotabek yang berjubal penumpang bukan suatu hal yang asing lagi bagi sebagian masyarakat. Alat transportasi yang murah meriah ini masih tetap menjadi primadona bagi penumpang yang bermukim diwilayah jabotabek. Tak terhitung berapa banyak penumpang yang kesehariannya mengunakan transportasi kereta api jabotabek ini. Mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan kantor hingga masyarakat umum. Mereka rela berhimpitan di kereta api yang penuh sesak, bahkan tak jarang ada penumpang yang nekad berdiri di ruang marsinis dan di atap kereta api. Kehidupan di Kota Jakarta dipacu dengan waktu, harus ke tempat tujuan tepat pada waktunya maka tak jadi masalah tak mendapat tempat duduk di kereta jabotabek. Suasana yang kurang nyaman dan kebersihan yang kurang diperhatikan kereta jabotabek merupakan potret sisi lain Jakarta. Jika diperhatikan tak sedikit pula yang mengais rezeki dari komunitas kereta jabotabek ini. Mulai dari berjualan, mengemis hingga menyapu kereta demi imbalan recehan dari penumpang. Bahkan tak jarang pula banyak orang gila yang berkeliaran di stasiun, lantaran stress memikirkan himpitan biaya hidup. Geliat kehidupan Jakarta yang terlihat tenang, aman dan tentran namun masih banyak orang yang menjerit karena lapar.
Untuk itu dari singgasana Anda yang nyaman, kami akan mengajak untuk menilik lebih dalam kehidupan disekitar kita yakni sisi lain kehidupan di stasiun kereta api. Siang itu matahari masih setia memancarkan sinarnya untuk kehidupan di bumi. Kami sengaja menumpangi kereta jabotabek untuk menyorot lebih dalam kehidupan di sekitar wilayah stasiun. Kami memulai perjalanan ini dari stasiun tebet. Di sana begitu banyak pedagang stasiun mulai dari pedagang minuman dan makanan hingga pedagang VCD, asesoris wanita dan perkakas rumah tangga. Alunan suara musik dari VCD yang diputar penjual VCD menyemarakkan suasana, hingga lamanya menunggu kereta tak terasa. Mata kami terus Menyapu seluruh bagian di stasiun Tebet. Ada kehidupan pemulung yang mengais rezeki dengan mengumpulkan botol dan gelas bekas air mineral hingga memungut sisa makanan. Betapa miris hati ini melihat potret sosial disekitar kita. Betapa tidak kita sering kali membuang makanan di rumah sementara masih banyak orang yang rela mengais sisa-sisa makanan terbuang. Cukup lama kami duduk terpaku di stasiun tebet, hingga akhirnya kereta itu tiba. Meski berdesakan kami terpaksa menaiki kereta itu juga, lantaran terpacu dengan waktu. Tujuan pertama kami adalah stasiun Cikini, lalu Gondangdia, karena disana banyak pemulung yang membangun rumah kerdus di stasiun.
Tidur beralaskan kerdus
Kereta yang berjubal-jubal, suara pengamen yang memekikan telinga ditambah pedagang yang simpang siur cukup menyita perhatianku. Akhirnya kami tiba di stasiun Cikini, namun tak satupun objek yang kami dapatkan. Di sana hanya ada para pedagang cendramata dan keranjang hantaran pengantin yang terdapat di kios-kios di lantai 1 stasiun Cikini. Lantaran tak ada objek menarik yang dapat kami bidik maka kamipun melanjutkan perjalanan ke stasiun Gondangdia. Ternyata di sana tak jauh beda dengan stasiun Cikini, akhirnya kami memutuskan putar balik dengan menumpangi kereta ke jurusan stasiun Manggarai. Siang itu mataku terpana menyaksikan mereka tertidur diatas kerdus bekas beralaskan koran di stasiun Manggarai. Mereka bukanlah penumpang kereta yang hendak berangkat ke tempat tujuan, tapi mereka adakah kaum urban yang sengaja mengadu nasib di Jakarta. Kota metropolitan dipandang sebagai surga bagi penduduk desa, karena berfikir mencari uang di Jakarta lebih mudah dibandingnya di desa. Kemilau kota Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langit, menjadi daya tarik bagi mereka sehingga berduyun-duyun membanjiri ibu kota. Padahal kenyataannya hidup di Jakarta tak seindah yang mereka bayangkan. Terbatasnya jumlah lapangan kerja membuat jumlah penganguran semakin banyak sehingga kehidupan di Jakarta menjadi semakin sulit. Para pendatang seakan rela melakukan apa saja demi meraih impian hidup enak di Jakarta. Saat ini sudah semakin sedikit saja orang yang ingin membangun desanya, dengan mengarap sawah dan perkebunan. Mereka lebih memilih Ke Jakarta dari pada berpanas-panasan menanam padi dan 3 bulan kemudian baru bisa mendapatkan hasil panen.
Mengadu Nasib di Jakarta
Aku terus memotret mereka dengan camera poket digital sehingga tak menimbulkan kecurigaan bagi orang-orang diselilingnya. Panas terik matahari yang menyengat tak membuat mereka terbangun dari tidurnya. Meski hanya beralaskan kerdus bekas dan selembar koran, namun mereka begitu pulas dalam tidurnya. Perut yang lapar belum terisi apapun hingga siang hari itu, membuat tubuh lemas dan mata mengantuk. Begitu banyak orang tergeletak di lantai stasiun yang kotor itu. Ada kakek yang tertidur lelap beralaskan koran berbantal tas kumelnya, ada pula ibu-ibu dan anaknya, ada pula mereka yang duduk terpaku tak berdaya. Rupanya objek yang sedari tadi kupotret terbangun. “ Lagi ngapain mbak “, sapanya dengan ramah sambil tersenyum. “ Boleh ngobrol sebentar ?”, tanyaku singkat. Ia pun mengangukan kepalanya. Akhirnya aku berkenalan dengannya. Ibu muda ini menceritakan getir pahit kehidupannya, sehingga memutuskan untuk ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Wanita berkerudung itu menyebut namanya Dewi, berusia 25 tahun. Ia berserta suaminya Ranti dan Heni putrinya (3 tahun) baru 2 minggu mengadu nasib di Jakarta. Keluarga ini nekad dari Surabaya ke Jakarta guna mencari pekerjaan dengan bermodalkan ijasah SMA. “ Suami tidak ada kerjaan di kampung, kami masih menumpang pada orang tua jadi untuk makan sehari-hari saja sulit”. Ungkapnya dengan tatapan mata sayu.
Dewi mengaku orang tuanya punya 2 petak sawah di Surabaya, tapi kakak dan adiknya yang sudah menikah ikut tinggal bersama orang tua. Jadi otamatis panen 3 bulan sekali tak cukup untuk makan sekeluarga. Untuk itulah ia dan suaminya serta anaknya bertekad mengadu nasib di Jakarta. Dewi menuturkan, Ia dan suaminya beranikan diri ke Jakarta, karena suami ada yang menjanjikan kerja. Tapi nyatanya hingga sekarang belum jelas. Mana uang sudah habis. “Yah sekarang beginilah kerjaan kami yang penting halal, tidak mengemis apalagi melacur”, katanya sambil menunjukkan gelas dan botol-botol air meneral yang sudah terkumpul. Untuk bisa bertahan hidup Dewi dan suami memungut gelas dan botol bekas air mineral di kereta. Satu hari Dewi dan suaminya Ranti memperoleh 2 Kg botol dan gelas mineral bekas. Satu botolnya di jual seharga 3 ribu rupiah jadi ia hanya dapat 6 ribu rupiah. Dengan pendapatan itu ia hanya bisa membeli satu nasi bungkus untuk dimakan bersama-sama. “ sampai kapan mau seperti ini terus?” tanyaku. Matanya langsung menerawang penuh harap “ Sampai suami saya dapat kerjaan, saya selalu shalat fardu dan tahajud supaya suami cepat dapat kerjaan. Saya juga tidak mau hidup seperti ini terus”, ucapnya dengan polos. Dewi mengaku meski harus tidur di stasiun dengan alas kerdus namun ia tak pernah meninggalkan ibadah. “ Kalau shalat saya disini, karena kalau di mushola bayarnya 1500 rupiah, sedangkan kalau ke kamar mandi harus bayar 1000 rupiah. Mending buat makan, yang pentingkan bersih tidak terkena najis”, ucapnya sambil menunjuk lantai stasiun manggarai.
Ketika kami temui saat itu, suaminya masih mengumpulkan botol bekas air mineral. Sementara Ranti dari pagi hingga tengah hari baru mendapatkan beberapa gelas dan botol saja. Anaknya pun di tidurkan agar terlelap sehingga lupa kala perutnya belum terisi makanan dan minuman apapun hari ini. Meski penghasilannya tak cukup untuk makan sehari-hari, namun Dewi merasa cukup nyaman tidur di Manggarai. “ kita sama-sama senasib jadi tidak ada yang mengusir kita disini meski kita adalah pendatang baru”, ucapnya ibu dari dua putri ini. Meski di stasiun Manggarai di kuasai preman, namun mreka cukup baik menerima kehadiran mereka. Bahkan tak jarang Babe ( ketua preman manggarai) memberinya makanan untuk para pemulung dan pengemis yang bermukim di stasiun Manggarai. Babe menarik uang keamanan dari para pedagang di stasiun Manggarai, yang uangnya sebagian di berikan untuk para pengemis dan pemulung. “ Kalau di sini 2 minggu sekali ada pembagian nasi bungkus dari gereja, tapi kalau dari masjid hanya snack saja sehabis shalat jumat”, ungkapnya dengan serius. Yah inilah realita, sebagian besar penduduk Indonesia orang muslim, namun hanya segelintir orang saja yang peduli dengan nasib orang jalanan seperti ini. Maka tak heran jika kristenisasi terjadi dimana-mana. “ Gereja juga sering bagi-bagikan uang, tapi InsyaAllah kami tak mau menerima uang dari gereja. Kalau nasi bungkus saya terima tapi saya lihat dulu lauknya, kalau halal baru saya makan”, ungkap Dewi sambil membelai rambut putrinya.
Sudah Kenyang Hidup Susah
Lain cerita Dewi dan keluarganya, lain pula cerita ibu Siti Rohmana ( 48 tahun), yang saat itu duduk di samping Dewi. Wanita yang akrab di sapa mbah ini, mengaku sejak tahun 1990 hijrah dari Semarang ke Jakarta. Saat itu ia diajak majikannya untuk menjadi pekerja rumah tangga di kawasan elit Kelapa gading. Berhubung sang majikan harus hijrah ke Hongkong, dan ibu Siti tak berkenan untuk ikut serta hingga ia memutuskan untuk bertahan hidup di Jakarta. Tak ada yang bisa diraih Siti di desa, sejak sepeninggalan suaminya ia harus membanting tulang menghidupi anak-anaknya. Menurutnya kalau hidup di Semarang ia bisa melakukan apapun karena ia tak punya modal untuk membuka warung. Sementara ia tak punya sedikitpun sawah yang bisa digarap. “ Saya sudah kenyang hidup susah, segala macam usaha pernah saya jalani mulai dari pembantu, jadi pemulung dean sekarang jualan baju bekas”, ucap ibu dari 3 orang anak ini. Siti Rohmana mengaku tak tega jika harus menumpang pada anaknya yang sudah menikah karena kehidupan anaknya saja dalam kekurangan. “ Anak saya tidak kerja hanya suaminya saja yang kerja jadi kuli angkut di pasar. Masa saya tega menambah beban mereka buat makan saja susah”, ucapnya dengan polos.
Pahit getirnya kehidupan sudah dirasakannya, hingga tak tak takut jika harus tidur tanpa atap, kedinginan, kepanasan dan kehujanan. Siti mengaku tak selalu tidur di stasiun tebet, ia bisa tidiur dimanapun kala kaki telah letih melangkah demi mencari rezeki yang halal. Kulitnya legam terbakar teriknya matahari, tekadnya tak mengurangi semangatnya untuk mendapatkan rupiah demi rupiah. “ Kadang-kadang saja jualan sampai Purkarta, Cikampek kemana saja lah yang penting laku” sambil menujukkan pakaian bekas yang terbungkus plastik. Dari hasil penjualan baju bekas Siti bisa memperoleh hasil antara 5 ribu hingga 15 ribu rupiah sehari. Ia membeli baju bekas sekarung seharga 25 ribu lalu dijual lagi 3 potong pakaian seharga 5 ribu. “ Kalau di Jakarta tidak tahan banyak yang gila hidup seperti ini, tapi InsyaAllah saya masih ingat Allah. Meski hidup miskin kita harus tetap ibadah biar hidup tenang”, ucap wanita setengah baya ini. Ketika kami mengombrol dengannya, tiba-tiba wanita yang tidur disebelahnya terbangun. Tangan dan kakiku langsung di senggol oleh Dewi dan ibu Siti sambil berbisik dengan pelan. “ dia wanita kerja malam, suka melacur jangan di tanya-tanya mbak”, ucapnya dengan mimik berbisik. Aku hanya tersenyum karena tetap tertarik dengan cerita wanita muda itu.
Wanita muda itu bernama Tonah ( 20 tahun), sudah ke Jakarta sejak tahun 1998. “ Saya cacat mbak, jadi di usir sama kakak-kakak dikampung karena hanya merepotkan keluarga. Orang tua saya sudah meninggal semua jadi tidak ada yang membela saya”, ucapnya dengan memelas sambil menunjukkan jari kirinya yang mengecil. Tonah mengaku tak mau mengemis karena trauma pernah dibentak orang, dan ia pun tak mau memungut botol air mineral seperti yang dilakukan Dewi. “ Saya hanya bantu-bantu saja, kadang suka ada memberi uang saya. Bapak-bapak itu kalau kalau perlu sama saya kasih uang 5 ribu kadang 15 ribu”, ucapnya dengan tenang. Ia melakukan aksinya dimalam hari di sekitar wilayah manggarai untuk menjaring hidung belang. “ Saya belum nikah, tapi sudah sudah punya anak dua kali,anak saya yang satu meninggal. Sekarang anak saya titipkan sama saudara saya dikampung, saya tidak bisa cari duit kalau bawa anak”, tutur Tonah sambil mengucek matanya.Tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga sudah saatnya kami harus meninggalkan mereka. Tonah, Dewi dan Siti hanya segelintor orang yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka terpaksa bermukim di stasiun karena mahalnya sewa rumah kontrakan. Mereka adalah orang-orang yang punya mimpi-mimpi indah untuk hidup layak di Ibukota. Akankah kita mewujudkan mimpi mereka atau mengembalikan mereka kekampung halaman dengan menyelesaikan solusi ekonomi yang sedang menghimpitnya.. Haruskan mereka menggadaikan keyakinan dan harga diri demi sesuap nasi ? Berikan solusi dan bantu mereka menyelesaikan kemelut kehidupan, jika bukan kita siapa lagi yang mau membantu mereka? ( Teks : Windy)
cerpem karya windy
cerpen
Topeng Dunia Glamor
Oleh : Windy Novita
Gemerlap lampu menantang kegelapan disaat keheningan malam terusir jauh dari sebuah tempat yang konon memberikan surga duniawi.
Alunan musik hingar bingar menambah kesemarakan suasana. Orang-orang datang dengan pakaian perlente serba mewah. Semerbak tercium aroma harum dari farhum bermerk bercampur dengan aroma alkohol menyengat. Rangkaian senyum merekah disana-sini sebagai tanda sukacita setidaknya itulah yang tampak dari fisik luar semata. Namun entahlah pada kalbu yang bergelayut, bisakah ia merasakan kegembiraan malam ini?
Aku sendiri agak bingung, ketika sebuah sms kuterima tertulis dari Salsa “datang yah “ SalSa Party” caffe kawasan sudirman. Sudah lama aku tak bersua dengan sahabat lamaku. Aku baru ingat hari ini adalah ulang tahun Salsa. Sebenarnya agak segan menghadiri pesta glamor macam itu, tapi entahlah sepertinya ada dorongan kuat yang mendorongku untuk hadir kesana. Rasanya aku bisa merasakan sebuah kepedihan jiwa-jiwa gundah diantara kemewahan duniawi yang sifatnya semu. Sudah lama kutinggalkan kemegahan dunia yang serba glamor untuk menapaki jalan sunyi sebuah jalan yang memberikan kedamaian di hatiku.
Kulangkah kakiku menerjang kegelapan malam untuk sebuah pertemuan yang dapat merubah dunia jadi lebih bermakna. Ditempat itu kulihat salsa dengan pakaian gaun malam warna hitam bertali kecil di bahu. Ia nampak semakin cantik nan elegan. Dengan life style seperti itu makin nampak powernya sebagai wanita golongan kelas menengah atas. Memang penampilan dapat menunjukkan status sosial seseorang.
Cepat-cepas kutepis segala celotehan yang bergemuruh dalam batinku. “Hai, Lia Apa Kabar? senang kamu mau datang kesini”, ujar Salsa sambil mencium pipiku kanan dan kiri. “kabarku baik , kamu makin cantik saja Salsa”, kataku basa-basi. “Makasih Lia, sejak kapan kamu berpakaian aneh seperti ini apa gak gerah?, Kamu malah terlihat lebih tua dengan pakaian itu, makanya pakai gaun malam dong!”. Ucap Salsa dengan gaya mencibir. Aku hanya tersenyum.
Belum selesai aku menyabarkan hatiku dengan sindiran Salsa, tiba-tiba Firda datang menghapiriku “Hai Lia, aku sampai gak kenalin kamu sekarang, kok pakai bajunya oma - oma sih?, kenapa gak pakai daster aja sekalian, He he he”. Aku dibuat serba salah dengan orang-orang ini, aku merasa tidak nyaman di sini. Firda sendiri tak kalah seksi dari Salsa, ia pakai gaun mini dengan belahan dada yang sangat rendah hingga menyumbul kekayaan yang terpendam di dalamnya. Akhirnya Salsa meninggalkan kami untuk menyambut para tamu yang lainnya. Di tempat ini aku bersua dengan Vini, ia hadir bersama suaminya malam ini.
“Li kamu udah tau belum kalau Salsa punya suami lagi, dia nikah di Singapur. Malam ini adalah ulang tahunnya sekaligus pernikahannya”, kata Firda dengan semangat. “Memangnya kenapa harus nikah di Singapur?”, tanyaku dengan polos. “ kamu ini gimana emang gak tahu kalau Salsa nikah dengan suami orang, ops…”. Ujar firda sambil menutup mulutnya karena terlanjur keceplosan bicara. “Trus kabarnya Tania gimana kok dia tidak datang malam ini?”. “Tania itu makin kaya sekarang ia bisnis perhiasan sama suaminya. Kita rutin ngadain arisan bulanan loh, kamu mau ikut tidak? Tanya Firda Aku hanya mengelengkan kepala. “Vinalia kenapa kamu gak mau kumpul lagi sama kita. sekarang kamu kumpulnya sama ibu-ibu yah? he he he” Gelak tawa Firda disambut, Vini, Gina, tasya, Doni dan Ari.
Mereka semua menertawakan sebuah jalan menuju surgawi sebuah kehidupan abadi diakhirat kelak. Kemegahan duniawi sesaat laksana bayangan pelangi yang semu indah namun tanpa arti. Ketika kehidupan dikelilingi harta, perhiasan, rumah dan mobil mewah apakah mereka dapat merasakan kedamaian abadi dalam jiwa? Batin mereka kosong kerontang tanpa makna. Mereka selalu diliputi rasa was-was, ketakutan kalau harta mereka dirampok, perusahaan mereka bangkrut, suami berselingkuh. Rasa gundah gulana ini senantiasa menghantui kehidupan mereka, karena mereka tak punya tempat untuk berkeluk kesah dan memohon pertolongan. Segala kemegahan dunia glamor tak ubahnya seperti sebuah topeng cantik yang dikenakan para penari topeng.
“Halo Lia, bengong aja. apa kabar makin cantik saja kamu. Sudah menikah belum? “, aku dikagetkan oleh suara yang datang dari belakang. sepertinya suara yang tidak asing bagiku. “ Hai Surya apa kabarmu?, kerja di mana sekarang, berapa anakmu?”, kataku menyapanya. “aku belum menikah habis kalau nikah jadi gak bebas sih, aku punya usaha Iven organizer. Kamu cantik, seandainya kamu berdandan sexy seperti dulu he he he”, ucap Surya, sambil menatap dadaku yang tertutup pasmina.
Pesta malam ini luar biasa glamor, Salsa mengundang sederet artis ternama papan atas sebagai tamu undangannya maupun sebagai bintang untuk mengisi acara malam ini. Kilauan berlian yang digunakan para wanita kelas atas membuat gemerlap pancaran cahaya pada temaran lampu yang redup. Kepulan asap rokok di sana, dan bau alkohol menjadi hal yang lumrah. Tibalah saatnya puncak acara, dimana Salsa naik ke panggung bersama suaminya. Tiba-tiba saja aku tersentak, karena suaminya ternyata pengusaha terkenal yang sudah beristri.
Setelah memberikan sambutan, acara dilanjutkan hiburan, pasangan pengantin yang sedang berbahagia malam ini. Para tamu berhamburan turun dari bangkunya untuk melantai dalam pesta dansa hingga Sang malam menjemput fajar. Semua pasangan saling berdekapan erat penuh kemesraan. Sudah 5 tahun kutinggalkan dunia glamor yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. Rasanya aku sudah lelah menjalani kehidupan glamor yang tak bisa menjanjikan apa-apa selain lembah kenistaan. Ketika diriku berada dalam keputusaan karena kehilangan harta, kekasih dan teman-teman, aku bertemu dengan Annisa. Dialah yang membawaku untuk menemukan kembali menemukan kasih abadi yaitu kasihnya Sang Pencipta. Dulu kutinggalkan shalat dan puasa demi mengejar kenikmatan duniawi sesaat. Namun justru kenikmatan inilah yang menyeretku dalam dunia hitam. Narkoba,pesta sex, alkohol, Judi seakan jadi mata rantai tak terpisahkan dari hidupku dulu.
Terlalu lama kupalingkan wajahku dariNya hingga akhirnya aku terpuruk. Tak satupun orang sanggup menolong diriku selain kekuatan dariNya. Aku lelah menjalani panggung sandiwara ini, aku ingin batinku terisi oleh kekuatan yang lain sehingga membuatku damai. Setelah selesai shalat Isya Hp ku berdering “Assalamu’alaikum”, sapaku menjawab suara dari sebrang sana. “halo, waalaikum salam, hai Li kenapa kamu pulang cepat, aku mencarimu mau ngajakin pulang bareng. Li besok sore bisa kita ketemu?”. Kata Firda yang masih berada dalam pesta itu. “Ya besok sore sehabis pulang kerja, kita ketemu di Chitos ”.jawabku. Tumben sekali ia menghubungiku, seingatku ia tak mau lagi berteman denganku.
Firda sahabat lamaku, aku mengenalnya saat kuliah di Australia. Masih terbayang dalam ingatanku bagaimana dulu kami menghabiskan malam. Kami tidak pernah absen dari satu pub, caffe, diskotik dari satu tempat ke tempat yang lain. Tak ada yang lebih indah selain bercengrama dengan alkohol hingga membuat kami melayang melupakan segala persoalan duniawi . Sekarang di Usia kami memasuki 32 tahun, kudengar kabar terakhir frida sedang dalam proses perceraian. Sedangkan aku saat ini masih hidup sendiri. Hidup adalah rahasia Illahi, aku tak tahu kapan Allah memberiku jodoh.
Setelah kuselesaikan tugas-tugas kantor yang menumpuk, kuhempaskan kaki menginjak pedal gas untuk menerjang macet untuk mencari jalan pintas menuju Cilandak Town Squre. Setiba disana kulihat Firda sudah duduk di caffe. Sore itu ia memakai celana jeans dan kaos ketat warna biru muda. Tampak serasi dengan gaya mudanya. Sementara aku memakai pakaian kerja, stelan blezer hitam plus kerudung warna senada. “Hai lia, sudah lama aku nunggu”, sapanya sambil menyorongkan pipinya padaku. “Maaf fri, aku kena macet, tapi ngomong-ngomong ada apa nih kok tumben pengen ketemu sore-sore gini?”
“Ini loh li, Aku sedang ada masalah nih. Aku yakin kamu sudah tau tentang prihal rumah tanggaku yang diambang perceraian”. Tak ada kata yang keluar dari bibirku selain angukan dan turut prihatin. Cerita hidupnya mengalir dengan derasnya dari bibir Firda yang mungil, ia minta cerai dari suaminya karena suaminya tak sangup memenuhi gaya hidup yang glamor. Suaminya yang bekerja sebagai PNS tak mau korupsi, sekalipun tuntuntan frida begitu banyak. Akhirnya jalan terakhir adalah perceraian, sekalipun mereka sudah dikarunia satu putri usia 3 tahun.
“Sabar aja yah fri, mungkin kamu harus banyak belajar dari pengalaman hidupmu”.Ucapku dengan penuh perhatian. “Makasih yah li, kamu memang sahabatku. Tapi masalahku sekarang ini bukan karena perceraian, tapi karena besok ulang tahun anakku”. Katanya dengan mata berkaca-kaca. “Oh ya, lalu apa yang membuatmu sedih?” “ Aku sudah terlanjur sebar undangan acara ulang tahun dengan mengundang teman-teman anakku dan orang tuanya di restaurat. Tapi saat ini aku tak punya uang”, Ujar Frida dengan sedih.
Kuhempaskan napas dalam-dalam mengamati kehidupan Firda yang masih bergaya hidup mewah sekalipun sedang berada pada posisi sulit. “Lalu apa yang bisa kubantu?”, tanyaku “Vinalia bisakah kamu pinjami aku uang, 3 juta aja buat ultah Sela. Kamu gak mau kan lihat temanmu ini malu dihadapan orang tua murid teman sekelasnya Sela di Play Group!”. Ucapnya dengan nada memelas dan raut muka sedih. Mulutku beku, seakan tak sanggup berkata apa-apa selain angukan, tanda boleh. Kusodorkan amplop putih untuk Firda, ampon ini adalah gajiku sebulan. Entah bagaimana untuk biaya hidupku bulan depan, karena aku tak punya banyak uang di tabungan. “Fir, uang ini bisa kamu pakai, tapi tolong undang anak asuhku untuk ikut merasakan pesta ulang tahun anakmu. Mereka ada 5 orang. Kamu gak keberatan kan?”, tanyaku. “Tentu saja tidak”, katanya sambil tersenyum.
Setelah pertemuan dengan Firda sore itu, aku kembali menuju rumahku di bilangan Bintaro. Kubuka dompetku hanya berisi 3 lembar uang lima puluh ribuan dan beberapa lembar uang ribuan. Aku tak mau ria dengan bantuan yang kuberikan untuk sahabatku. Demi Allah aku ikhlas, semata-mata hanya untuk mendapat ridhoMu ya Allah. Aku belum bisa berbuat banyak, sebelum sang maut menjemputku. Anak-anak asuhku adalah mata jiwaku. Mereka membuat hidupku lebih punya makna, ketika dokter telah memfonisku mengidap Leukimia.
Aku tahu usiaku tak lama,entah sampai kapan aku bisa menghirup udara di dunia yang fana ini? Terlalu panjang perjalanan hidupku kuisi dengan kehidupan kelam. Mungkin ini adalah teguran Allah untukku agar aku dapat dapat kembali pada jalanNya. Tiba-tiba saja saat menyetir mobilku mataku gelap aku tak bisa mengendalikan lagi kemudi, kepalaku terbentur sakit sekali darah segar mengucur dari pelipis. Aku tak ingat apa-apa lagi, bahkan aku tak tahu sekarang ini berada dimana?
Esok harinya sebuah berita di surat kabar ibu kota tertulis Seorang wanita pengendarai mobil starlet tewas tertabrak truk berisi semen di jalan tol Pondok Pinang.
Kamis, 13 Desember 2007
buku karya windy
Telah terbit Buku Serba-serbi Anak, karya : Windya Novita
Terbitan : Elex Media komputindo
Harga : Rp. 34800;
Anak adalah anugrah terindah dalam hidup ini, begitu bahagianya orang tua dalam menyambut kelahiran sang buah hati. Rasanya setiap detik begitu berarti jika terlewatkan begitu saja tanpa melihat perkembangan si kecil. Segala rasa capek, letih lelah dengan penat dengan rutinitas di kantor seakan langsung sirna begitu melihat senyum manis si kecil. Sudah sepatutnya orang tua dapat memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Menjadi orang tua juga merupakan suatu karunia yang mulia dari Sang Pencipta, dimana bersama anak-anak kita arungi kehidupan dunia menjadi penuh warna. Jika selama ini orang tua berfikir, bahwa mereka yang mendidik dan pengajarkan banyak hal pada anak. Ternyata tak sepenuhnya benar, ada kalanya orang tua harus meregangkan sedikit keegoisannya untuk melihat lebih dekat keajaiban yang ditawarkan anak-anak. Bahkan kita harus banyak belajar dari anak maupun dari banyak hal, karena proses membesarkan anak adalah proses learning by doing.
Sebagai orang tua kita juga harus banyak belajar dalam mendidik dan mengasuh anak, agar kita bisa meretaskan generasi yang berkualitas. Buku ini berisi kumpulan artikel tentang seputar anak dari mulai dalam kandungan hingga anak beranjak besar. Buku yang berisi tinjuan kedokteran maupun psikologis ini berisi kumpulan artikel tentang anak yang layak di ketahui orang tua dalam mengasuh putra-putri mereka. Dalam buku ini tak hanya berisi teori tapi juga aplikasi langsung dari para tokoh selebriti maupun masyarakat umum jadi Anda bisa simak pengalaman mereka dalam mengasuh buah hatinya. Tak ada yang lebih indah selain memberikan yang terbaik untuk anak tercinta.
Penulis
Windya Novita ( Windy)
Daftar Isi
Yang perlu diketahui seputar anak dari kandungan hingga masa sekolah
(Tinjauan psikologis dan kedokteran)
I Masa Kehamilan :
- 9 bulan masa istimewa mempersiapkan janin
- Intip si Kecil lewat USG 3 Dan 4 Dimensi
II Masa bayi (0-1 tahun)
- 12 Panduan untuk ibu muda
- Bilirubin ( Bayi kuning)
- Menyisati gumoh pada bayi
- Menyusui Oke karier jalan terus
- Cara bijak memilih Baby sitter
- Waspadai Obesitas pada anak !
III Masa batita (1-3 Tahun)
- Kau mengubah hidupku
- Kok anak telat ngomong?
- Pentingnya peluk dan cium untuk si kecil
- Huh...anakku susah makan !
- waspadai tantrum pada anak
- Belajar baca dengan metode Glenn Doman
- Anakku suka ngambek
- Bermain bersama ayah
- Awas bahaya dalam rumah
- Jangan asal memilih mainan, pilihlah mainan educatif untuk si kecil
IV Masa balita ( 3-5 tahun)
- Saatnya masuk sekolah
- Bahasa Cinta dalam keluarga
- Deteksi bakat si kecil
- Trauma pada si kecil
- Mengajarkan sopan santun pada si kecil
V Sekolah Dasar (6-12 tahun)
1. Strategi pemberian uang saku
2. Mengikuti berbagai macam les, obsesi orang tua atau minat anak?
3. Anakku maniak Tv
4. Panggil aku mama
5. Sex education for Children
6. Membiasakan anak mandiri dan bertanggung jawab
7. Mengenal anak Indigo
8. Homeschooling alternatif pendidikan untuk anak anda
Komentar Buku Serba-serba Anak
Buku ini disusun berdasarkan tahapan periode perkembangan anak yang mencakup aspek-aspek bidang perkembangan baik fisik, mental dan psikososial. Pembaca akan memperoleh gambaran yang jelas dalam mempersiapkan kehamilan, menjalani kehamilan dengan nyaman dan merawat bayi agar tumbuh kembangnya optimal. Gaya penulisan buku ini mudah dipahami dan patut menjadi rujukan calon orang tua maupun ayah dan bunda.
Rahmi Dahnan, Psi ( Psikolog Yayasan kita dan buah hati)
Banyak ilmu bermanfaat yang pasti dibutuhkan calon ibu dan ibu muda ada di buku ini. Anda mau jadi ibu yang bisa menciptakan surga bagi suami dan anak-anak di rumah? Pilihan tepat baca buku ini.
Ratna Listy ( artis, presenter)
Membaca buku ini amat menyenangkan. Windy menyajikan kepada kita dengan bahasa sederhana, komunikatif dan istilah kedokteran yang sudah memansyarakat, namun padat dengan bobot ilmiahnya, sehingga mudah mencernanya. Buku ini penting untuk dibaca karena banyak menambah pengetahuan kesehatan secara luas dan mencari pemecahan masalah di dalam keluarga.
dr. Tommy Indrawan, MARS ( Dirut RS Juwita, Bekasi)
Buku ini menyajikan artikel tentang anak yang menarik untuk dibaca, salah satunya artikel asi, yang sangat penting diberikan untuk bayi. Menjadi ibu adalah sebuah proses pembelajaran yang tiada henti, buku ini menarik untuk di baca bagi para ibu yang ingin menambah pengetahuannya dalam membesarkan anak-anaknya.
Arzeti Bilbina ( Publik Figur, Duta Asi)