Potret Sosial
Kehidupan di stasiun Kereta
Kereta jabotabek melaju dengan kencang melewati stasiun Bogor hingga stasiun kota.Disitulah kami mengais rezeki dari memulung gelas dan botol air mineral sisa penumpang. Entah sampai kapan kami begini, kami ingin hidup dengan layak.
Suasana kereta jabotabek yang berjubal penumpang bukan suatu hal yang asing lagi bagi sebagian masyarakat. Alat transportasi yang murah meriah ini masih tetap menjadi primadona bagi penumpang yang bermukim diwilayah jabotabek. Tak terhitung berapa banyak penumpang yang kesehariannya mengunakan transportasi kereta api jabotabek ini. Mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan kantor hingga masyarakat umum. Mereka rela berhimpitan di kereta api yang penuh sesak, bahkan tak jarang ada penumpang yang nekad berdiri di ruang marsinis dan di atap kereta api. Kehidupan di Kota Jakarta dipacu dengan waktu, harus ke tempat tujuan tepat pada waktunya maka tak jadi masalah tak mendapat tempat duduk di kereta jabotabek. Suasana yang kurang nyaman dan kebersihan yang kurang diperhatikan kereta jabotabek merupakan potret sisi lain Jakarta. Jika diperhatikan tak sedikit pula yang mengais rezeki dari komunitas kereta jabotabek ini. Mulai dari berjualan, mengemis hingga menyapu kereta demi imbalan recehan dari penumpang. Bahkan tak jarang pula banyak orang gila yang berkeliaran di stasiun, lantaran stress memikirkan himpitan biaya hidup. Geliat kehidupan Jakarta yang terlihat tenang, aman dan tentran namun masih banyak orang yang menjerit karena lapar.
Untuk itu dari singgasana Anda yang nyaman, kami akan mengajak untuk menilik lebih dalam kehidupan disekitar kita yakni sisi lain kehidupan di stasiun kereta api. Siang itu matahari masih setia memancarkan sinarnya untuk kehidupan di bumi. Kami sengaja menumpangi kereta jabotabek untuk menyorot lebih dalam kehidupan di sekitar wilayah stasiun. Kami memulai perjalanan ini dari stasiun tebet. Di sana begitu banyak pedagang stasiun mulai dari pedagang minuman dan makanan hingga pedagang VCD, asesoris wanita dan perkakas rumah tangga. Alunan suara musik dari VCD yang diputar penjual VCD menyemarakkan suasana, hingga lamanya menunggu kereta tak terasa. Mata kami terus Menyapu seluruh bagian di stasiun Tebet. Ada kehidupan pemulung yang mengais rezeki dengan mengumpulkan botol dan gelas bekas air mineral hingga memungut sisa makanan. Betapa miris hati ini melihat potret sosial disekitar kita. Betapa tidak kita sering kali membuang makanan di rumah sementara masih banyak orang yang rela mengais sisa-sisa makanan terbuang. Cukup lama kami duduk terpaku di stasiun tebet, hingga akhirnya kereta itu tiba. Meski berdesakan kami terpaksa menaiki kereta itu juga, lantaran terpacu dengan waktu. Tujuan pertama kami adalah stasiun Cikini, lalu Gondangdia, karena disana banyak pemulung yang membangun rumah kerdus di stasiun.
Tidur beralaskan kerdus
Kereta yang berjubal-jubal, suara pengamen yang memekikan telinga ditambah pedagang yang simpang siur cukup menyita perhatianku. Akhirnya kami tiba di stasiun Cikini, namun tak satupun objek yang kami dapatkan. Di sana hanya ada para pedagang cendramata dan keranjang hantaran pengantin yang terdapat di kios-kios di lantai 1 stasiun Cikini. Lantaran tak ada objek menarik yang dapat kami bidik maka kamipun melanjutkan perjalanan ke stasiun Gondangdia. Ternyata di sana tak jauh beda dengan stasiun Cikini, akhirnya kami memutuskan putar balik dengan menumpangi kereta ke jurusan stasiun Manggarai. Siang itu mataku terpana menyaksikan mereka tertidur diatas kerdus bekas beralaskan koran di stasiun Manggarai. Mereka bukanlah penumpang kereta yang hendak berangkat ke tempat tujuan, tapi mereka adakah kaum urban yang sengaja mengadu nasib di Jakarta. Kota metropolitan dipandang sebagai surga bagi penduduk desa, karena berfikir mencari uang di Jakarta lebih mudah dibandingnya di desa. Kemilau kota Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langit, menjadi daya tarik bagi mereka sehingga berduyun-duyun membanjiri ibu kota. Padahal kenyataannya hidup di Jakarta tak seindah yang mereka bayangkan. Terbatasnya jumlah lapangan kerja membuat jumlah penganguran semakin banyak sehingga kehidupan di Jakarta menjadi semakin sulit. Para pendatang seakan rela melakukan apa saja demi meraih impian hidup enak di Jakarta. Saat ini sudah semakin sedikit saja orang yang ingin membangun desanya, dengan mengarap sawah dan perkebunan. Mereka lebih memilih Ke Jakarta dari pada berpanas-panasan menanam padi dan 3 bulan kemudian baru bisa mendapatkan hasil panen.
Mengadu Nasib di Jakarta
Aku terus memotret mereka dengan camera poket digital sehingga tak menimbulkan kecurigaan bagi orang-orang diselilingnya. Panas terik matahari yang menyengat tak membuat mereka terbangun dari tidurnya. Meski hanya beralaskan kerdus bekas dan selembar koran, namun mereka begitu pulas dalam tidurnya. Perut yang lapar belum terisi apapun hingga siang hari itu, membuat tubuh lemas dan mata mengantuk. Begitu banyak orang tergeletak di lantai stasiun yang kotor itu. Ada kakek yang tertidur lelap beralaskan koran berbantal tas kumelnya, ada pula ibu-ibu dan anaknya, ada pula mereka yang duduk terpaku tak berdaya. Rupanya objek yang sedari tadi kupotret terbangun. “ Lagi ngapain mbak “, sapanya dengan ramah sambil tersenyum. “ Boleh ngobrol sebentar ?”, tanyaku singkat. Ia pun mengangukan kepalanya. Akhirnya aku berkenalan dengannya. Ibu muda ini menceritakan getir pahit kehidupannya, sehingga memutuskan untuk ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Wanita berkerudung itu menyebut namanya Dewi, berusia 25 tahun. Ia berserta suaminya Ranti dan Heni putrinya (3 tahun) baru 2 minggu mengadu nasib di Jakarta. Keluarga ini nekad dari Surabaya ke Jakarta guna mencari pekerjaan dengan bermodalkan ijasah SMA. “ Suami tidak ada kerjaan di kampung, kami masih menumpang pada orang tua jadi untuk makan sehari-hari saja sulit”. Ungkapnya dengan tatapan mata sayu.
Dewi mengaku orang tuanya punya 2 petak sawah di Surabaya, tapi kakak dan adiknya yang sudah menikah ikut tinggal bersama orang tua. Jadi otamatis panen 3 bulan sekali tak cukup untuk makan sekeluarga. Untuk itulah ia dan suaminya serta anaknya bertekad mengadu nasib di Jakarta. Dewi menuturkan, Ia dan suaminya beranikan diri ke Jakarta, karena suami ada yang menjanjikan kerja. Tapi nyatanya hingga sekarang belum jelas. Mana uang sudah habis. “Yah sekarang beginilah kerjaan kami yang penting halal, tidak mengemis apalagi melacur”, katanya sambil menunjukkan gelas dan botol-botol air meneral yang sudah terkumpul. Untuk bisa bertahan hidup Dewi dan suami memungut gelas dan botol bekas air mineral di kereta. Satu hari Dewi dan suaminya Ranti memperoleh 2 Kg botol dan gelas mineral bekas. Satu botolnya di jual seharga 3 ribu rupiah jadi ia hanya dapat 6 ribu rupiah. Dengan pendapatan itu ia hanya bisa membeli satu nasi bungkus untuk dimakan bersama-sama. “ sampai kapan mau seperti ini terus?” tanyaku. Matanya langsung menerawang penuh harap “ Sampai suami saya dapat kerjaan, saya selalu shalat fardu dan tahajud supaya suami cepat dapat kerjaan. Saya juga tidak mau hidup seperti ini terus”, ucapnya dengan polos. Dewi mengaku meski harus tidur di stasiun dengan alas kerdus namun ia tak pernah meninggalkan ibadah. “ Kalau shalat saya disini, karena kalau di mushola bayarnya 1500 rupiah, sedangkan kalau ke kamar mandi harus bayar 1000 rupiah. Mending buat makan, yang pentingkan bersih tidak terkena najis”, ucapnya sambil menunjuk lantai stasiun manggarai.
Ketika kami temui saat itu, suaminya masih mengumpulkan botol bekas air mineral. Sementara Ranti dari pagi hingga tengah hari baru mendapatkan beberapa gelas dan botol saja. Anaknya pun di tidurkan agar terlelap sehingga lupa kala perutnya belum terisi makanan dan minuman apapun hari ini. Meski penghasilannya tak cukup untuk makan sehari-hari, namun Dewi merasa cukup nyaman tidur di Manggarai. “ kita sama-sama senasib jadi tidak ada yang mengusir kita disini meski kita adalah pendatang baru”, ucapnya ibu dari dua putri ini. Meski di stasiun Manggarai di kuasai preman, namun mreka cukup baik menerima kehadiran mereka. Bahkan tak jarang Babe ( ketua preman manggarai) memberinya makanan untuk para pemulung dan pengemis yang bermukim di stasiun Manggarai. Babe menarik uang keamanan dari para pedagang di stasiun Manggarai, yang uangnya sebagian di berikan untuk para pengemis dan pemulung. “ Kalau di sini 2 minggu sekali ada pembagian nasi bungkus dari gereja, tapi kalau dari masjid hanya snack saja sehabis shalat jumat”, ungkapnya dengan serius. Yah inilah realita, sebagian besar penduduk Indonesia orang muslim, namun hanya segelintir orang saja yang peduli dengan nasib orang jalanan seperti ini. Maka tak heran jika kristenisasi terjadi dimana-mana. “ Gereja juga sering bagi-bagikan uang, tapi InsyaAllah kami tak mau menerima uang dari gereja. Kalau nasi bungkus saya terima tapi saya lihat dulu lauknya, kalau halal baru saya makan”, ungkap Dewi sambil membelai rambut putrinya.
Sudah Kenyang Hidup Susah
Lain cerita Dewi dan keluarganya, lain pula cerita ibu Siti Rohmana ( 48 tahun), yang saat itu duduk di samping Dewi. Wanita yang akrab di sapa mbah ini, mengaku sejak tahun 1990 hijrah dari Semarang ke Jakarta. Saat itu ia diajak majikannya untuk menjadi pekerja rumah tangga di kawasan elit Kelapa gading. Berhubung sang majikan harus hijrah ke Hongkong, dan ibu Siti tak berkenan untuk ikut serta hingga ia memutuskan untuk bertahan hidup di Jakarta. Tak ada yang bisa diraih Siti di desa, sejak sepeninggalan suaminya ia harus membanting tulang menghidupi anak-anaknya. Menurutnya kalau hidup di Semarang ia bisa melakukan apapun karena ia tak punya modal untuk membuka warung. Sementara ia tak punya sedikitpun sawah yang bisa digarap. “ Saya sudah kenyang hidup susah, segala macam usaha pernah saya jalani mulai dari pembantu, jadi pemulung dean sekarang jualan baju bekas”, ucap ibu dari 3 orang anak ini. Siti Rohmana mengaku tak tega jika harus menumpang pada anaknya yang sudah menikah karena kehidupan anaknya saja dalam kekurangan. “ Anak saya tidak kerja hanya suaminya saja yang kerja jadi kuli angkut di pasar. Masa saya tega menambah beban mereka buat makan saja susah”, ucapnya dengan polos.
Pahit getirnya kehidupan sudah dirasakannya, hingga tak tak takut jika harus tidur tanpa atap, kedinginan, kepanasan dan kehujanan. Siti mengaku tak selalu tidur di stasiun tebet, ia bisa tidiur dimanapun kala kaki telah letih melangkah demi mencari rezeki yang halal. Kulitnya legam terbakar teriknya matahari, tekadnya tak mengurangi semangatnya untuk mendapatkan rupiah demi rupiah. “ Kadang-kadang saja jualan sampai Purkarta, Cikampek kemana saja lah yang penting laku” sambil menujukkan pakaian bekas yang terbungkus plastik. Dari hasil penjualan baju bekas Siti bisa memperoleh hasil antara 5 ribu hingga 15 ribu rupiah sehari. Ia membeli baju bekas sekarung seharga 25 ribu lalu dijual lagi 3 potong pakaian seharga 5 ribu. “ Kalau di Jakarta tidak tahan banyak yang gila hidup seperti ini, tapi InsyaAllah saya masih ingat Allah. Meski hidup miskin kita harus tetap ibadah biar hidup tenang”, ucap wanita setengah baya ini. Ketika kami mengombrol dengannya, tiba-tiba wanita yang tidur disebelahnya terbangun. Tangan dan kakiku langsung di senggol oleh Dewi dan ibu Siti sambil berbisik dengan pelan. “ dia wanita kerja malam, suka melacur jangan di tanya-tanya mbak”, ucapnya dengan mimik berbisik. Aku hanya tersenyum karena tetap tertarik dengan cerita wanita muda itu.
Wanita muda itu bernama Tonah ( 20 tahun), sudah ke Jakarta sejak tahun 1998. “ Saya cacat mbak, jadi di usir sama kakak-kakak dikampung karena hanya merepotkan keluarga. Orang tua saya sudah meninggal semua jadi tidak ada yang membela saya”, ucapnya dengan memelas sambil menunjukkan jari kirinya yang mengecil. Tonah mengaku tak mau mengemis karena trauma pernah dibentak orang, dan ia pun tak mau memungut botol air mineral seperti yang dilakukan Dewi. “ Saya hanya bantu-bantu saja, kadang suka ada memberi uang saya. Bapak-bapak itu kalau kalau perlu sama saya kasih uang 5 ribu kadang 15 ribu”, ucapnya dengan tenang. Ia melakukan aksinya dimalam hari di sekitar wilayah manggarai untuk menjaring hidung belang. “ Saya belum nikah, tapi sudah sudah punya anak dua kali,anak saya yang satu meninggal. Sekarang anak saya titipkan sama saudara saya dikampung, saya tidak bisa cari duit kalau bawa anak”, tutur Tonah sambil mengucek matanya.Tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga sudah saatnya kami harus meninggalkan mereka. Tonah, Dewi dan Siti hanya segelintor orang yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka terpaksa bermukim di stasiun karena mahalnya sewa rumah kontrakan. Mereka adalah orang-orang yang punya mimpi-mimpi indah untuk hidup layak di Ibukota. Akankah kita mewujudkan mimpi mereka atau mengembalikan mereka kekampung halaman dengan menyelesaikan solusi ekonomi yang sedang menghimpitnya.. Haruskan mereka menggadaikan keyakinan dan harga diri demi sesuap nasi ? Berikan solusi dan bantu mereka menyelesaikan kemelut kehidupan, jika bukan kita siapa lagi yang mau membantu mereka? ( Teks : Windy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar