Jumat, 14 Desember 2007

cerpem karya windy

cerpen

Topeng Dunia Glamor

Oleh : Windy Novita

Gemerlap lampu menantang kegelapan disaat keheningan malam terusir jauh dari sebuah tempat yang konon memberikan surga duniawi.

Alunan musik hingar bingar menambah kesemarakan suasana. Orang-orang datang dengan pakaian perlente serba mewah. Semerbak tercium aroma harum dari farhum bermerk bercampur dengan aroma alkohol menyengat. Rangkaian senyum merekah disana-sini sebagai tanda sukacita setidaknya itulah yang tampak dari fisik luar semata. Namun entahlah pada kalbu yang bergelayut, bisakah ia merasakan kegembiraan malam ini?

Aku sendiri agak bingung, ketika sebuah sms kuterima tertulis dari Salsa “datang yah “ SalSa Party” caffe kawasan sudirman. Sudah lama aku tak bersua dengan sahabat lamaku. Aku baru ingat hari ini adalah ulang tahun Salsa. Sebenarnya agak segan menghadiri pesta glamor macam itu, tapi entahlah sepertinya ada dorongan kuat yang mendorongku untuk hadir kesana. Rasanya aku bisa merasakan sebuah kepedihan jiwa-jiwa gundah diantara kemewahan duniawi yang sifatnya semu. Sudah lama kutinggalkan kemegahan dunia yang serba glamor untuk menapaki jalan sunyi sebuah jalan yang memberikan kedamaian di hatiku.

Kulangkah kakiku menerjang kegelapan malam untuk sebuah pertemuan yang dapat merubah dunia jadi lebih bermakna. Ditempat itu kulihat salsa dengan pakaian gaun malam warna hitam bertali kecil di bahu. Ia nampak semakin cantik nan elegan. Dengan life style seperti itu makin nampak powernya sebagai wanita golongan kelas menengah atas. Memang penampilan dapat menunjukkan status sosial seseorang.

Cepat-cepas kutepis segala celotehan yang bergemuruh dalam batinku. “Hai, Lia Apa Kabar? senang kamu mau datang kesini”, ujar Salsa sambil mencium pipiku kanan dan kiri. “kabarku baik , kamu makin cantik saja Salsa”, kataku basa-basi. “Makasih Lia, sejak kapan kamu berpakaian aneh seperti ini apa gak gerah?, Kamu malah terlihat lebih tua dengan pakaian itu, makanya pakai gaun malam dong!”. Ucap Salsa dengan gaya mencibir. Aku hanya tersenyum.

Belum selesai aku menyabarkan hatiku dengan sindiran Salsa, tiba-tiba Firda datang menghapiriku “Hai Lia, aku sampai gak kenalin kamu sekarang, kok pakai bajunya oma - oma sih?, kenapa gak pakai daster aja sekalian, He he he”. Aku dibuat serba salah dengan orang-orang ini, aku merasa tidak nyaman di sini. Firda sendiri tak kalah seksi dari Salsa, ia pakai gaun mini dengan belahan dada yang sangat rendah hingga menyumbul kekayaan yang terpendam di dalamnya. Akhirnya Salsa meninggalkan kami untuk menyambut para tamu yang lainnya. Di tempat ini aku bersua dengan Vini, ia hadir bersama suaminya malam ini.

“Li kamu udah tau belum kalau Salsa punya suami lagi, dia nikah di Singapur. Malam ini adalah ulang tahunnya sekaligus pernikahannya”, kata Firda dengan semangat. “Memangnya kenapa harus nikah di Singapur?”, tanyaku dengan polos. “ kamu ini gimana emang gak tahu kalau Salsa nikah dengan suami orang, ops…”. Ujar firda sambil menutup mulutnya karena terlanjur keceplosan bicara. “Trus kabarnya Tania gimana kok dia tidak datang malam ini?”. “Tania itu makin kaya sekarang ia bisnis perhiasan sama suaminya. Kita rutin ngadain arisan bulanan loh, kamu mau ikut tidak? Tanya Firda Aku hanya mengelengkan kepala. “Vinalia kenapa kamu gak mau kumpul lagi sama kita. sekarang kamu kumpulnya sama ibu-ibu yah? he he he” Gelak tawa Firda disambut, Vini, Gina, tasya, Doni dan Ari.

Mereka semua menertawakan sebuah jalan menuju surgawi sebuah kehidupan abadi diakhirat kelak. Kemegahan duniawi sesaat laksana bayangan pelangi yang semu indah namun tanpa arti. Ketika kehidupan dikelilingi harta, perhiasan, rumah dan mobil mewah apakah mereka dapat merasakan kedamaian abadi dalam jiwa? Batin mereka kosong kerontang tanpa makna. Mereka selalu diliputi rasa was-was, ketakutan kalau harta mereka dirampok, perusahaan mereka bangkrut, suami berselingkuh. Rasa gundah gulana ini senantiasa menghantui kehidupan mereka, karena mereka tak punya tempat untuk berkeluk kesah dan memohon pertolongan. Segala kemegahan dunia glamor tak ubahnya seperti sebuah topeng cantik yang dikenakan para penari topeng.

“Halo Lia, bengong aja. apa kabar makin cantik saja kamu. Sudah menikah belum? “, aku dikagetkan oleh suara yang datang dari belakang. sepertinya suara yang tidak asing bagiku. “ Hai Surya apa kabarmu?, kerja di mana sekarang, berapa anakmu?”, kataku menyapanya. “aku belum menikah habis kalau nikah jadi gak bebas sih, aku punya usaha Iven organizer. Kamu cantik, seandainya kamu berdandan sexy seperti dulu he he he”, ucap Surya, sambil menatap dadaku yang tertutup pasmina.

Pesta malam ini luar biasa glamor, Salsa mengundang sederet artis ternama papan atas sebagai tamu undangannya maupun sebagai bintang untuk mengisi acara malam ini. Kilauan berlian yang digunakan para wanita kelas atas membuat gemerlap pancaran cahaya pada temaran lampu yang redup. Kepulan asap rokok di sana, dan bau alkohol menjadi hal yang lumrah. Tibalah saatnya puncak acara, dimana Salsa naik ke panggung bersama suaminya. Tiba-tiba saja aku tersentak, karena suaminya ternyata pengusaha terkenal yang sudah beristri.

Setelah memberikan sambutan, acara dilanjutkan hiburan, pasangan pengantin yang sedang berbahagia malam ini. Para tamu berhamburan turun dari bangkunya untuk melantai dalam pesta dansa hingga Sang malam menjemput fajar. Semua pasangan saling berdekapan erat penuh kemesraan. Sudah 5 tahun kutinggalkan dunia glamor yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. Rasanya aku sudah lelah menjalani kehidupan glamor yang tak bisa menjanjikan apa-apa selain lembah kenistaan. Ketika diriku berada dalam keputusaan karena kehilangan harta, kekasih dan teman-teman, aku bertemu dengan Annisa. Dialah yang membawaku untuk menemukan kembali menemukan kasih abadi yaitu kasihnya Sang Pencipta. Dulu kutinggalkan shalat dan puasa demi mengejar kenikmatan duniawi sesaat. Namun justru kenikmatan inilah yang menyeretku dalam dunia hitam. Narkoba,pesta sex, alkohol, Judi seakan jadi mata rantai tak terpisahkan dari hidupku dulu.

Terlalu lama kupalingkan wajahku dariNya hingga akhirnya aku terpuruk. Tak satupun orang sanggup menolong diriku selain kekuatan dariNya. Aku lelah menjalani panggung sandiwara ini, aku ingin batinku terisi oleh kekuatan yang lain sehingga membuatku damai. Setelah selesai shalat Isya Hp ku berdering “Assalamu’alaikum”, sapaku menjawab suara dari sebrang sana. “halo, waalaikum salam, hai Li kenapa kamu pulang cepat, aku mencarimu mau ngajakin pulang bareng. Li besok sore bisa kita ketemu?”. Kata Firda yang masih berada dalam pesta itu. “Ya besok sore sehabis pulang kerja, kita ketemu di Chitos ”.jawabku. Tumben sekali ia menghubungiku, seingatku ia tak mau lagi berteman denganku.

Firda sahabat lamaku, aku mengenalnya saat kuliah di Australia. Masih terbayang dalam ingatanku bagaimana dulu kami menghabiskan malam. Kami tidak pernah absen dari satu pub, caffe, diskotik dari satu tempat ke tempat yang lain. Tak ada yang lebih indah selain bercengrama dengan alkohol hingga membuat kami melayang melupakan segala persoalan duniawi . Sekarang di Usia kami memasuki 32 tahun, kudengar kabar terakhir frida sedang dalam proses perceraian. Sedangkan aku saat ini masih hidup sendiri. Hidup adalah rahasia Illahi, aku tak tahu kapan Allah memberiku jodoh.

Setelah kuselesaikan tugas-tugas kantor yang menumpuk, kuhempaskan kaki menginjak pedal gas untuk menerjang macet untuk mencari jalan pintas menuju Cilandak Town Squre. Setiba disana kulihat Firda sudah duduk di caffe. Sore itu ia memakai celana jeans dan kaos ketat warna biru muda. Tampak serasi dengan gaya mudanya. Sementara aku memakai pakaian kerja, stelan blezer hitam plus kerudung warna senada. “Hai lia, sudah lama aku nunggu”, sapanya sambil menyorongkan pipinya padaku. “Maaf fri, aku kena macet, tapi ngomong-ngomong ada apa nih kok tumben pengen ketemu sore-sore gini?”

“Ini loh li, Aku sedang ada masalah nih. Aku yakin kamu sudah tau tentang prihal rumah tanggaku yang diambang perceraian”. Tak ada kata yang keluar dari bibirku selain angukan dan turut prihatin. Cerita hidupnya mengalir dengan derasnya dari bibir Firda yang mungil, ia minta cerai dari suaminya karena suaminya tak sangup memenuhi gaya hidup yang glamor. Suaminya yang bekerja sebagai PNS tak mau korupsi, sekalipun tuntuntan frida begitu banyak. Akhirnya jalan terakhir adalah perceraian, sekalipun mereka sudah dikarunia satu putri usia 3 tahun.

“Sabar aja yah fri, mungkin kamu harus banyak belajar dari pengalaman hidupmu”.Ucapku dengan penuh perhatian. “Makasih yah li, kamu memang sahabatku. Tapi masalahku sekarang ini bukan karena perceraian, tapi karena besok ulang tahun anakku”. Katanya dengan mata berkaca-kaca. “Oh ya, lalu apa yang membuatmu sedih?” “ Aku sudah terlanjur sebar undangan acara ulang tahun dengan mengundang teman-teman anakku dan orang tuanya di restaurat. Tapi saat ini aku tak punya uang”, Ujar Frida dengan sedih.

Kuhempaskan napas dalam-dalam mengamati kehidupan Firda yang masih bergaya hidup mewah sekalipun sedang berada pada posisi sulit. “Lalu apa yang bisa kubantu?”, tanyaku “Vinalia bisakah kamu pinjami aku uang, 3 juta aja buat ultah Sela. Kamu gak mau kan lihat temanmu ini malu dihadapan orang tua murid teman sekelasnya Sela di Play Group!”. Ucapnya dengan nada memelas dan raut muka sedih. Mulutku beku, seakan tak sanggup berkata apa-apa selain angukan, tanda boleh. Kusodorkan amplop putih untuk Firda, ampon ini adalah gajiku sebulan. Entah bagaimana untuk biaya hidupku bulan depan, karena aku tak punya banyak uang di tabungan. “Fir, uang ini bisa kamu pakai, tapi tolong undang anak asuhku untuk ikut merasakan pesta ulang tahun anakmu. Mereka ada 5 orang. Kamu gak keberatan kan?”, tanyaku. “Tentu saja tidak”, katanya sambil tersenyum.

Setelah pertemuan dengan Firda sore itu, aku kembali menuju rumahku di bilangan Bintaro. Kubuka dompetku hanya berisi 3 lembar uang lima puluh ribuan dan beberapa lembar uang ribuan. Aku tak mau ria dengan bantuan yang kuberikan untuk sahabatku. Demi Allah aku ikhlas, semata-mata hanya untuk mendapat ridhoMu ya Allah. Aku belum bisa berbuat banyak, sebelum sang maut menjemputku. Anak-anak asuhku adalah mata jiwaku. Mereka membuat hidupku lebih punya makna, ketika dokter telah memfonisku mengidap Leukimia.

Aku tahu usiaku tak lama,entah sampai kapan aku bisa menghirup udara di dunia yang fana ini? Terlalu panjang perjalanan hidupku kuisi dengan kehidupan kelam. Mungkin ini adalah teguran Allah untukku agar aku dapat dapat kembali pada jalanNya. Tiba-tiba saja saat menyetir mobilku mataku gelap aku tak bisa mengendalikan lagi kemudi, kepalaku terbentur sakit sekali darah segar mengucur dari pelipis. Aku tak ingat apa-apa lagi, bahkan aku tak tahu sekarang ini berada dimana?

Esok harinya sebuah berita di surat kabar ibu kota tertulis Seorang wanita pengendarai mobil starlet tewas tertabrak truk berisi semen di jalan tol Pondok Pinang.

Tidak ada komentar: